PANCAINDERA

2012/04/01

mataku
lidahku
hidungku
telingaku
kulitku
duhai
penglihatku
pencecapku
penciumku
pendengarku
perasaku
o
rasalahaku
dengarlahaku
ciumlahaku
cecaplahaku
lihatlahaku
wahai
kulitku
telingaku
hidungku
lidahku
mataku

 

Iklan

GALAU

2012/03/23

Bahasaku, Galau itu padanan kata Galo dalam bahasa Sunda, yang berarti campur atau aduk atau capur-aduk. Maksudnya, telah bercapur, telah beraduk. Pengertian di atas menunjukkan adanya dua atau lebih jenis. Misalnya, pasir-semen-air, atau krikil-air-smen-pasir dalam membangun rumah, yang kemudian menjadi jenis lain yaitu tembok atau beton.

(Nah, karena aku orang Sunda, maka Galau aku padankan dengan Galo sebagi tersebut di atas.)

Galau, yang akhir-akhir ini tenar, biasanya bermaksud menunjukkan bahwa perasa sedang merasakan perasaan yang tidak menentu, tidak terartikulasikan, tidak terdefinisikan dengan tegas: apakah ”aku” sedang rindu atau benci; senang atau kecewa; suka, rindu, atau marah!

Jika kita (sanggup tekun) memperhatikan perasaan kita dalam setiap keadaan, maka kita akan bertemu dengan jenis perasaan yang secara tradisi belum memiliki nama. Nah, Galau diidetifikasi sebagai wakil dari perasaan-perasaan yang belum bernama tersebut. Ini tentang rasa, perasa, perasaan.

Kenyataan yang kita saksikah dalam suatu hari, misalnya, terkumpul dalam waktu yang bersamaan, misalnya, ketika malam telarut di jelang tidur. Perasaan-perasaan sebagai tanggapan atas kenyataan yang kita alami membekas dan bercampur. Ketika perasa kita tak mampu memberi pengertian terhadap perasaan yang sedang dirasakan maka itulah saatnya Galau memaikan perannya sebagai wakil perasaan yang belum bernama.

(Mungkin, kalau tentang pikir, pemikir, dan pemikiran, istilah yang tepat adalah Bingung, yaitu keadaan belum terdefinisikannya apa yang sedang difikirkan, belum terpilahnya hal-hal yang hadir dalam pemikir.)

%d blogger menyukai ini: