Mata Keranjang

2011/11/07

Di bawah stopan di tengah kota, kami duduk berbincang santai. Tentu saja kretek dan kopi hangat menemani kami. Kendaraan bermotor yang rupa-rupa seliweran membuat mataku tak pernah diam. Di sela obrolan yang tak bertema, dalam benak sempat terlitas “…mereka?”

“ssst” aku memberi isyarat agar kawanku diam. Aku, dan mungkin kawanku, sedang menikmati sesuatu. Aku sedang ingin memberi dongeng kepada kawanku di seberang sana. Aku kangen celotehnya yang ngasal kalau menanggapi dongenganku. Maka ku hantarkan sebuah surat cinta kepadanya.

Yang kusayang, engkau sahabat yang tak pernah dekat!

Surat ini aku buat beberapa saat setelah berbincang dengan kawan baru di antara jalanan suatu kota. Sekarang aku menyapamu agar tau apa yang ku tau di sana. Perhatikanlah sekitarmu, apakah ada si “seksi” yang lewat?

Kau tau bagaimana pesona pantat sintal dengan celana ketat? Aku terpaku, terpana melihatnya. Kami langsung menghentikan pembicaraan yang sedang nyaman. Tentu saja, menikmati pandangan sambil ngoceh atau mendengar ocehan memudarkan rasa nikmatnya. Aku yakin, itu pantat saudari kita yang masih belia. Tapi, waw…. Zaman ini, memang serba cepat.

Sedang asyik-asyiknya menatap pemandangan, tiga bocah kumal, seoran wanita cilik dekil dan dua lelaki ingusan kusam, bernyanyi bersama bawakan lagu asmara yang sedang nge-pop. Iringan guitar yang tidak karuan dan suara yang acak-acakkan berhasil memalingkan perhatianku. Ada jengkenya. Tapi keseluruhan yang kulihat dari mereka…aku memang tak kuasa Jangan aku, Wali Kota pun tak kuasa memberi air bersih untuk mereka mandi!

Samping kananku Pos Polantas. Di dalamnya ada beberapa Pak Polisi. Satu orang sedang asik negosiasi korban pelanggaran stopan. Bagaimana tidak di stop polisi, yang nyala lampu merah malah terus nyeruduk. Aku kira, SIMnya pasti “nembak”. Itu yang kena stop Pak Polisi mengerut-erutkan dahi, tapak muram terancam. Aku tidak sedang jadi orang baik waktu itu, makanya malah merasa geli melihat kelakuan mereka berduan di pinggir jalan.

Jam 16.44, di hapeku, aku memilih-milih angkot untuk membawaku ke alun-alun. Tentu saja aku memilih angkot yang kursi depannya belum berpenumpang. Tapi, yang kurapakan tak kunjung datang. Akhirnya, terpaksa ikut angkot yang penuh dengan penumpang dengan satu penumpang di samping supir. Rabutnya panjang tergerai, matanya tepat seperti yang kusuka, bersih, mungil, lucu, dan aku duduk sangat dekat dengannya. Dan…hehe…kudapatkan nopenya.

Sedang asyik menikmati penjajakan, suasana berubah tegang. Angkot berhenti, satu penumpang turun. Tiba-tiba si sopir pun turun. Tanpa kata, si sopir meninju orang yang sedang duduk santai di sebuah warung trotaran. Mereka berkelahi. Aku benar-benar kalap menyaksikan adu jotos. Enkau, kan, tau kalau aku ini romantis dan baik budi. Tak biasa lah aku melihat maca itu. Aku tau sebab yang menyulut kemarahan si sopir setelah ia kemali mengemudikan nagkotnya sambil nyerocos sendiri tanpa menghiraukan kami. Dendam sisa rebutan penumpang, rupanya. Hhh….

Oiya, cinderamatamu sudah kuterima. Terimakasih. Tapi jangan bosan dulu membaca suratku yang tumben-tumbenan rada panjang ini. Masih ada alun-alun yang perlu kau tau apa yang kutau di sana, meskipun tidak lama di sana. Dan tunggulah apa yang kubuat untukmu.

Tentnu kau masih ingat, sahabat, kita pernah membincangkan masalah sosial dengan beberapa turus ilmu sosial. Kita sempat memperdebatkan unsur yang menjadi sumber utama timbulnya masalah sosial. Ini lah, alun-alun kota yang sekarang tengah kunikmati. Boleh lah kalau kuanggap sebagai laboratorium sosial di institut yang kita buat di alam khayal tadi. Padahal kita sama-sama bukan mahasiswa. Aku yakin kalau engkau tak pernah menginjakkan kakimu di kampus manapun, seperti aku.

Menyusuri trotoar dengan santai. Kulihat jejeran Pedangang Kaki Lima dan Amparan di depan toko-toko pakaian. kulihat juga ada Warteg, Caffe, dan supermarket. Rupa-rupa jajanan, mungkin, ada di sini. Di antara kemegaahan bangunan-bangunan, di antara barisan kendaraan mewah, di antara gelak tawa atau senyum imut pejalan kaki dan penikmat belanjaan, berkeliaran orang-orang kumal, dekil, bau, kucel, awut-awutan, nyengir meringis yang mungkin iri atau kelaparan, tangis banyi dalam gendongan gelandangan…aku melihatnya. Mereka, di sebut orang yang dalam masalah sosial oleh para “pakar”.

Kalau kau liburan nanti, sempatkanlah untuk berjalan-jalan kemari. Janjiku tak ingkar untukmu, dan ini lah kota yang akan kita nikmati nanti. Sekarang, kau bayangkan saja sedang duduk disampingku, di trotor dekat warung kopi, di alun-alun ini. Ingat…cukup bayangkan, dan jangan macam-macam.

Sore ini raut wajah yang kau tampakkan sungguh berbeda. Aku melihatnya, engkau riang. Aku suka menikmati suasa ini dengan mu. Banyak yang akan kita kenang tentang kali ini. Yang tak mungkin ku lupa, ya, itu, kau cemberut merajuk saat kubandingkan dengan beberapa pejalan kaki yang cantik-cantik dengan penampilan yang rupa-rupa, dari yang serba tertutup rapi hingga yang belahan pantatnya dapat kulihat. Tua, muda, anak-anak, dan mungkin semua umur dapat kita lihat di sini.

Sebenarnya aku sedang ingin menikmati pesonamu, tapi kau malah asik ngoceh tentang pengemis yang tua renta hingga balita, tentang pengamen yang sendirian hingga bergerombol, bahkan kau ayik mengomentari para perokok. Ah, engkau, aku perokok juga. Tapi tak apa lah, terpaksa pun aku nikmati juga apa yang kau bicarakan. Toh aku berkesempatan menikmati caramu berbicara. Seolah engkau benar-benar pakar dalam masalah sosial, tentang peranan masyarakat kaya dalam pengentasan kemiskinan, tentang bagaimana seharusnya mendidik anak agar di usia remaja tidak seperti yang sedang kita lihat. Ah, engkau memang sok tau. Dari mana asal kata-katamu.

Harusnya kau mengerti kalau aku sedang ingin membicarakan tentang pengalaman dan perasaan masing-masing kita. Malah kau, lagi-lagi…ah, kau, bicara juga tentang ruas jalan yang lebar, terus di perlebar namun tetap macet. Aku menganggap bahwa para pembangun keliru menanggapi kemacetan. Kan, akan lebih baik kalau dibatasi saja jumlah kendaraan tiap keluarganya. Misalnya, lebih dari satu mobil dan satu motor per keluarga akan kena sanksi dan kendaraannya akan di sita. Nah, kau juga keliru telah menyalahkan rokok sebagai biang penyakit yang berhasil menewaskan banyak orang di dunia. Padahal kau tau sendiri kentut mobil, motor, dan pabrik lebih mencemarkan udara.

Gelandangan kecil dekil, menerima receh dari tante yang sudah tua namun bermekap menor, berpakaian seba mini, dan bahenol. Aku bingung melihat itu, kudu merasa prihatin atau geli. Maka ku hela nafas seperti yang kau lakukan. Kita saling diam setelah saling menatap. Suara renta menyapa Kau tengok di belakang, seorang nenek kucel, bau, dan meminta-minta. Kau rogoh saku, setelah beberapa kali kau lakukan itu untuk dua orang kakek, tiga gerombolan pengamen anak dan remaja dan pemuda, dan untuk ibu-ibu yang mengemis untuk makan anak yang digendongnya, dan aku melihatnya.

Ini lah kota, seperti yang biasa kita dan kawan kita yang mahasiswa membicarakannya, memang tempat segala rupa cerita. Kecuali tentang rimbun dedeaunan, rumput dan semak belukar, kicau rupa-rupa burung dan nyanyian serangga, air bening mengalir dengan ragam ikan yang boleh engkau nikmati dengan memancing atau menjala, lenguh kerbau atau sapi atau suara riang domba di penggembalaan. Kota dan masalah sosial nampaknya memang bersaudara. Aku melihatnya, di suatu kota di suatu alun-alun, di suatu tempat yang sesak antar pertokoan, orang-orang, dan kendaraan di jalanan. Benar, mataku mata keranjang, karena aku melihatnya.

Iklan

2 Tanggapan to “Mata Keranjang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: