Nasib Kami

2011/10/24

”…Pernah, bahkan sering, aku mendengar bawa nasiblah yang bisa diubah, dan takdir itu papasten yang mau-tidak-mau wajib diterima. Misalnya, Bapa ini termasuk orang kaya di Kampung ini, tapi Bapak terus bekerja mengelola kekayaan yang ada. Kemudian Bapa bertambah makin kaya raya, yang tadinya punya dua anak asuh, sekarang jadi tujuh anak asuh. Kalau takdir itu, misalkan, kematian. Itu tidak bisa di tawar-tawar lagi…”

Di beranda suatu masjid, ba’da Sholat Subuh, Seorang Anggota Irmas (Ikatan Remaja Masjid) dengan lugas menjelaskan tentang nasib dan takdir. Si Bapa Pekuli serabutan, yang hanya sanggup membiayai satu dari tiga anaknya untuk bersekolah menengah atas (SLTA), hanya manggut-manggut saja. ”…begitulah yang saya tau” akhir dari penjelasan orang muda IRMAS tersebut.

Di malam sebelumnya, mereka berdua bareng begadang di rumah Mang Kadir. Rumah berdinding anyaman bambu, berteras tanah, lantai kamar cuma karpet plastik. Tengah rumah saja yang dikramik. Rumah berukuran lebih-kurang 5,5m x 4m, berkamar dua, dapur dan jamban, cukup luas untuk Mang Kadir, istrinya, anak perempuan dan dua cucunya.

Di rumah itu lah, Mang Kadir tergolek diperdaya penyakit lipernya. Keluarganya malu membawa Mang Kadir ke Rumah Sakit, karena Rumah itu benar-benar Sakit. Jadi, siapa pun tau, kalau mau ke sana harus punya uang banyak. Pekuli macam Keluarga Kadir itu mana ada uang banyak, untuk makan harian saja kerepotan!

Di jelang subuh, peserta begadang mulai bubar, dan tidak lagi ada obrolan. Si Pekuli serabutan mulai melayang ke alam khayal: ”anakku, si cikal sudah kawin, kerjaannya sama sepertiku, yang kedua sama sepertiku juga. Si bungsu saja yang sekolah, yang tidak boleh sama sepertiku dan kakak-kakaknya. Seumur 39 tahun ini, pekerjaan begini-begini saja dari jaman muda. Kalau musim tanam padi, aku kuli, kalau musim panen, aku juga kuli.

Sejak langit remang-remang sampai matahari terik menggelitik ketenangan hati, aku bekerja. Kalau ada yang minta dibersihkan kebunnya, aku kuli, kalau yang meminta agar halaman tumahnya dibersihkan juga, aku kuli, kalau pabrik penggilingan padi butuh tenaga, aku juga kuli. Tapi rumahku sama dengan Si Kadir ini. Kalau nasib bisa diubah, dan kerja kerasku membuatku hanya tetap hidup begini….” Ia menghela nafas dalam, dalam-dalam, sangat dalam, dan menghembuskannya dengan sangat panjang.

Adzan Subuh terdengar di seluruh penjuru kampung. Muadzin-muadzin itu memang hebat, bersahutan saling menyapa seperti dialog tanpa makna, selalu bersahutan setiap waktunya adzan. Padahal, adzan dari masjid itu terdengar ke masjid ini, dan dari masjid ini juga terdengar kemasjid itu!

Sementara adzan subuh belum tuntas semuanya, si Pekuli berpamitan kepada si khayal yang melelahkan. ”benarkah nasib bisa diubah dan takdir tidak bisa diubah? Atau memang nasibku sudah ditakdirkan demikian, jadi pekuli….”

Iklan

Satu Tanggapan to “Nasib Kami”

  1. lina sophy said

    hm… cerita baru?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: