Pukulan Cinta

2011/06/11

Ia hanya duduk santai mendengarkan ocehan marah dari Kakak lelaki dan perempuannya. Ia juga tau kalau Ibunya diam saja, tapi ia tak tau perasaan ibunya ketika melihat tangan anak bungsunya dua kali dipukul keras oleh Kakaknya. Ia juga tidak tau komentar Ibunya tentang ocehan amarah kedua anaknya kepadanya. Yang menonton masih tak tenang saling komentar. Tapi kedua Kakaknya sudah lelah ngomel-ngomel. Dan, tibalah ia untuk bicara. Kasim tersenyum, lalu bicara seolah untuk semua orang yang memperhatikannya, dan tetap tenang seperti ketika memukul adik lelakinya. dengan rotan berdiameter 1.5 mm.

“Sejak kecil, keluargaku mengajarkan kejujuran dan saling menjaga. Mahfud itu mencuri empat mangga Mang Marli. Tiga tahun lagi dia usianya 15 tahun. Itu dewasa. Kalau tidak dipotong tangannya, ia patut di penjara. Kita tidak mau itu terjadi. Jangan samapi kasih sayang kita membuatnya berandal, tidak menghormati diri. Jika ini salah, pukul aku sepuas kalian” Kemudian hening.

Bapaknya datang keberanda dan meminta Istrinya untuk menyiapkan makan. “Sim, ayo…” si Bapak mengajak Kasim dan kedua Kakaknya untuk makan. Bapak tersenyum menjawab permohonam maaf anaknya, Kasim.

Iklan

2 Tanggapan to “Pukulan Cinta”

  1. lina sophy said

    intinya yang biasa kita obrolin kan mang, boleh disentil atau sedikit dipukul (dengan catatan ketika menyentil jangan dalam keadaan marah) 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: