Tangga Cahaya

2011/06/10

Setiap saat Pancaindera kita menyimak sesuatu—terlepas apakah dirikita menyadari atau tidak, sengaja atau tidak—yang kemudian akan menjadi Pengetahuan. Kita melihat satu Kupu-kupu kemudian di lain waktu melihat jenis lainnya, maka kita mendapat pijakan untuk mengatakan bahwa Kupu-kupu itu tidak satu jenis, tidak satu ukuran, dan masing-masing memiliki tingkah dan warna yang khas. Itu lah mengapa Pengetahuan di anggap sebagai cahaya, karena gelap (atau tiadanya cahaya) tidak akan menyimpulkan apapun kecuali gelap itu sendiri.

Batasan umum mengenai Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun, sehingga siapa pun yang memiliki Ilmu tentang Kupu-kupu akan sanggup menjelaskan mengapa Kupu-kupu berdeda rupa, memiliki warna-warna yang indah, berperilaku khas di masing-masing jenisnya, dan bagaimana seekor ulat sanggup menguah dirinya menjadi makhluk yang lebih indah. Itu lah Ilmu, Pengetahuan yang tersusun dan dapan dijelaskan bagi siapa saja yang hendak belajar. Jika Pengetahuan itu cahaya, maka sebaik-baiknya cahaya adalah Ilmu.

Sebagaimana dipercaya sejak zaman purba bahwa manusia adalah maklhuk paling sempurna—setidaknya demikianlah kepercayaan orang-orang beragama. Kepercayaan itu ditopang oleh banyak argumentasi, misalnya: Manusia mampu membunuh Harimau tanpan harus bertarung sebagaimana Harimau hendak menaklukan lawannya; manusia mampu melayang di antara udara tanpa harus mengeluarkan tenaga seperti burung-burung melakukannya; manusia mampu sampai kepada tempat tujuan dengan cepat tanpa harus berlari seperti kuda melakukannya.

Kemampuan-kemampuan semisal di atas adalah capaian yang diperoleh manusia dengan mempelajari Pengetahuan. Dan seperti telah di sebutkan di atas pula bahwa Ilmu lah Pengetahuan paling puncak (sebagik-baiknya cahaya). Tetapi kita juga tahu bahwa mencopet, mrampok, menipu, memperkosa pun akan berhasil tanpa masalah berarti apa bila pelaku menggunakan Ilmunya. Ingat, sebaik-baiknya amal (pekerjaan) apa bila dengan Ilmunya dan sebaik-baiknya Ilmu apa bila dengan amalnya (pekerjaannya). Sebaik-baiknya kesempurnaan manusia akan dicapai apa bila Ilmunya di amalkan dan alamannya mendasrkan kepada Ilmunya.

Puncak kesempurnaan manusia adalah kemuliaannya. Sebagai sifat mulia, sebenarnya kemuliaan ini hanya dikenal dalam konteks religi atau keagamaan, karena ukurannya menggunakan ketentuan Tuhan atau sesuatu yang dianggap Maha. Misalkan dalam tradisi Sunda dan Jawa ada ukuran 5M (Mabok, Madon, Maling, Mateni, Mapadani) yang menjadi ukuran pokok dalam melihat kualitas kmuliaan manusia. Siapa saja yang sanggup menghindari 5M tersebut maka ia lah orang yang patut menyandang sifat mulia. Tentunya, orang yang sanggup menghindari itu adalah orang yang memiliki Ilmu yang luas dan dalam. Karena, hanya dengan Ilmu kita dapat memastikan mana saja yang termasuk ke dalam 5M tersebut.

Biasanya, kemuliaan itu di tempatkan di atas dan kehinaan itu di tempatkan di bawah. Jika demikian, maka perumpamaan berkutnya adalah bahwa kita membutuhkan tangga untuk meraih kemuliaan atau pun kehinaan. Tangga itu adalah Ilmu. Hanya dengan itu kita dapat melakukan pemilahan secara etis dan estetis. Kalau pun hanya 5M yang kita jadikan ukuran dalam menentukan mana yang patut dimulyakan dan mana yang patut dihinakan, tentu hanya Ilmu yang dapat melakukannya, tidak cukup hanya dengan Pengetahuan—apa lagi apa bila kita hendak menggunakan ukuran yang lebih banya dari sekedar 5M, keluasan dan kedalaman Ilmu adalah sayaratnya.

Ilmu seumpama Cahaya—Tangga Cahaya—yang tidak hanya menerangi jalan mana yang benar utnuk di pilih, tetapi juga menaikkan nilai kesempurnaan manusia kepada tingkat kemuliaan. Ilmu sebagai Tangga Cahaya juga dapat membawa kita kepada tingkat kehinaan paling dasar. Itulah Ilmu, karenanya pula kita dapat memberikan alasan ketika kita ingkar dari janji, saat kita berusaha mendapatkan kepercayaan padahal sedang berkata berbohong, dan ketika kita melalaikan amanat sesuka-suka.

Ingat juga, banyak yang mendapat kemuliaan tanpa Ilmu, karenanya kesombongan bermuara dalam jiwanya. Karena kesombongannya itu juga, maka tak perlu tangga untuk turun kepada dasar kehinaan, dukup dengan terjatuh!

Iklan

8 Tanggapan to “Tangga Cahaya”

  1. lina sophy said

    :-bd

    tulisan lama ya, kok baru kebaca…

    • aksaraku said

      tulisan yg lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa 😀

    • lina sophy said

      baru liaaaaat, waktu itu kami kemanaa yaaaa :mrgreen:

      • aksaraku said

        baru bangun dr tidurnya kaleee…
        makanya baru liat ;))

        • lina sophy said

          “Ilmu seumpama Cahaya—Tangga Cahaya—yang tidak hanya menerangi jalan mana yang benar utnuk di pilih, tetapi juga menaikkan nilai kesempurnaan manusia kepada tingkat kemuliaan. Ilmu sebagai Tangga Cahaya juga dapat membawa kita kepada tingkat kehinaan paling dasar.” Paragraf ke-7

          Agar tidak terperosok ke tangga paling dasar, kumaha atuh kang?

      • lina sophy said

        hahahaha… meski hobi tidur kl pagi sempat buka mata kok, nah habis itu tidurrr lagi 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: