Tak Butuh Ambisi untuk Berhasil

2011/04/18

Sukino mendapat banyak pengetahuan yang dia anggap penting olehnya. Setelah mengikuti seminar itu, seminar yang menmbangkitkan semangat hidup, yang menanamkan abisi dalam meraih keinginan, Sukino tampak bersemangat. Ia menceritakan apa-apa yang diperolehnya, menyebut beberapa istilah yang dirasa aneh bagi orang kampung seperti Ibu dan Bapaknya, kemudian ia minta pendapat Ibunya.

Sebelum menjawab, si Ibu mesem-mesem, mungkin karena tak ngerti benar apa yang dimaksud anaknya, Sukino. si Ibu malah balik nanya, ”ambisi itu apa, nak?”

Sukino tertawa kecil mendengar pertanyaan Ibunya. Kemudian ia menyebut satu nama, yang katanya sebagai motivator yang ngomong juga di acara seminar yang ia ikuti, dan kemudian lagi Sukino menjawab sesuai yang ia fahami. ”…Bu, ambisi itu hasrat yang sangat kuat, teramat sangat kuat untuk meraih apa yang diinginkan. Pokoknya gini, Bu, apa yang Ibu mau ya itu harus tercapai. Kalau Ibu ga punya ambisi, Ibu ga bakal sukses.”

 Si Ibu cuma nyebut ”o..”, entah tanda ngerti apa bingung. Tapi si Bapak yang dari tadi asyik dengan jalanya, nimrum dan menanggapi.

 ”Bapa bangga punya kamu, nak. Ga sia-sia Bapa dan Ibu kerja ini itu. Kamu akan sukses, nak.”san

Sukino senang dan bahagia, dan berbagangga diri, mendengar Bapaknya memuji. Ia merasa bahwa usaha belajarnya selama ini tidak sia-sia. Ia menyimak sungguh-sungguh semua omongan bapaknya, karena memang dia anak penurut juga. Ia tau kalau bapaknya belum kelar bicara. Makanya dia cuma mesem-mesem mendengar pujian dari Bapa.

”Bapa ini ga sekolah. Pernah d SR (Sekolah Rakyat) dulu, ga selesai. Apa lagi Ibu, mana tau sekolah itu seperti apa. Tapi alhamdulillah, Bapa dan Ibumu diberi kesanggupan untuk membesarkanmu. Tanpa ambisi yang kamu sebut tadi itu, alhamdulillah, Bapa dan Ibu dimudahkan membiayai kamu sampe sarjana. Sekarang, Bapa wariskan petuah Kakekmu. Waktu itu, Bapa mau pergi ke sawah. Lagi semangat-semangatnya Bapa ngurus sawah, sebelum subuh Bapak sudah siap pergi. Suatu sore, Kakek menegur Bapa, karena lebih dari seminggu Bapa lupa subuh. ”Jang, kamu ini  bagaimana, baru dikasih padi bagus  sudah lupa waktu. Belum tentu kamu makan hasilnya. Eling-eling, hati-hati dengan semangatmu itu, Jang. Bahaya itu. Bisa habis sebelum waktu. Inget-inget, Semangat itu bukan untuk dipacu, tapi untuk dipelihara. Bapa ga bakal lupa nasehat itu. Alhamdulillah. Inget-inget, eling-eling, kamu kudu sanggup pelihara semangatmu. Biasa-biasa saja, nak.”

Suasana hening, tenang, damai. Mungkin karena soren ini tidak terlalu gerah, dan kembang asar bermekaran seiring nyanyian senja. Kehidupan terasa sederhana, tanpa ‘terlalu’, ‘sangat’, ‘teramat’, ‘lebih’.

18 April 2011 parigimulya

Iklan

4 Tanggapan to “Tak Butuh Ambisi untuk Berhasil”

  1. ulan said

    bagus!

  2. lina sophy said

    semangat itu bukan untuk di pacu, tapi untuk di pelihara! inget! eling-eling!

    wooo bijak sekali, like this! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: