Seni Bela Diri

2011/03/21

Sebuah ilmu primitif, ya, itu lah bela diri. Kini dikemas dengan istilah seni bela diri. Karate, taekondo, pencak silat, dan seabreg daftar istilah yang mewakili ragam bela diri yang disenikan. Sebuah cara menyelamatkan diri dari bahaya, itulah kira-kira yang diwakili oleh sebutan seni bela diri. Tidak saja bertujuan menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menyelamatkan diri diri lainnya. Maka dipakai istilah bela.

“…kalau masih sanggup lari, larilah hingga musuh jauh tak sanggup menjangkaunya.”

“lalu untuk apa latihan-latihan ini kalau hanya untuk melarikan diri? Bukankah lari begitu berarti pecundang…kalah dari…takut dengan…” dan berentet tanggapan si murid sebagai tanda tidak sepemahaman dengan gurunya.

“sudah aku katakan, Nak, kita berlatih selama berbulan-bulan ini hanya untuk lari, lari dengan baik, lari yang tidak menyusahkan tubuhmu stelahnya, lari yang dengan ilmunya. Lari agar kau tidak merepotkan diri sekedar untuk melukai orang lain. Kau faham, Nak?”

“ah, Guru, waktu SD dulu, saya ini juara 1 balap lari se-kecamatan. Kenapa baru bilang sekarang kalau ilmu yang Guru ajarkan sekedar untuk lari melarikan diri…!”

Si Guru tersenyum menyimak komentar itu dan tawa kecil murid-muridnya. Kemudian ia katakan bahwa “untuk membunuhku sekarang, kau tak perlu belajar seni bela diri, Nak.

Semua murid diam, entah apa sebabnya. Sang Guru menyampaikan salam sebagai akhir pertemuan kali ini.

Iklan

2 Tanggapan to “Seni Bela Diri”

  1. lina sophy said

    apa lagi ini kang? hahaha… 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: