Tangis

2011/03/08

Ceritanya, teriak pertamaku ketika mula aku berkenalan dengan cahaya, suhu, aroma, rasa, dan rupa. Teriak itu adalah tangis. Memasuki masa baru, setelah beberapa bulan dalam kandungan, dan entah berapa lama aku berperan sebagai bakal janin. Aku lahir, dengan berbagai upaya agar aku datang dalam keselamatan.

Masih ceritnya. Tangis pertamaku diikuti tangis mereka yang menanti kedatanganku. Bagi mereka, katanya, karena kebahagiaan yang rumit dijelaskan satu per satu. Mungkin tangis itu, bagiku, karena terkejut menyaksikan kenyataan baru, kehidupan baru yang akan melelahkan.

Beranjak, merangkak, kesadaran mulai terbentuk hingga dapat mulai menyusun kata, kalimat, kenyataan dan impian. Kemudian, kesadaran ini mulai belajar melakukan sesuatu, raga bertindak untuk sebuah pencapaian. Jaring penalaran semakin baik bentuknya. Aku mulai bertanya tentang cahaya, suhu, aroma, rasa, dan rupa. Pancaindera berperan dengan baik dalam hal ini.

Aku mulai menyadari bahwa aku pun menangis. Tangis ini masih karena keterkejutanku terhadap kenyataan dan impian. Sempat kusaksikan lelaki dan perempuan menangis, anak-anak dan dewasa menangis, yang kaya dan miskin menangis, yang berpangkat apapun menangis. Tangis itu bersebab ragam. Setidaknya, orang mengatakan dua sebab utama yang berlawanan: Kebahagiaan atau kegetiran.

Aku pun menangis, dengan ragam alasan. Bahkan terkadang tidak mengerti mengapa tangis begitu menikmatiku. Lagi-lagi, kesadaran menyempurnakan pemahaman atas segala kenyataan, dan tangis adalah satu diantaranya. Kembali ke cerita yang diwakili bayang-bayang, tangis rupanya mewakili perasaan yang melampaui puncaknya. Ketika bahagia dan getir tak lagi sempurna diwakili kata, tangis adalah ungkapannya.

Tetapi, kesadaran ini juga menjumpai tangis bersebab kemunafikan. Ketika seorang menapikan penalaran, perasaan dan pemikiran tidak setimbang. Keadaan ini mendekatkan siapa saja dengan kemunafikan, kebohongan dan penghianatan. Bahkan, tangis ini membohongi dan menghianati air mata.

cahaya, suhu, aroma, rasa, dan rupa, atas pemahaman pancaindra dan penalaran, memang menyusun jaringan penalaran bahwa ‘2’ dengan ‘dua’ itu berbeda. Banyak kemungkinan atas makna ‘a’ dan ‘A’. Kenyataan rupanya sangat beragam.

Sekarang yang kupahami, Tangis, ia hanya ungkapan atas segala pemahaman tehadap kenyataan ketika kata-kata tiak sanggup mewakilinya.

7 Desember 2010

Iklan

2 Tanggapan to “Tangis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: