Nun

2010/04/17

Diujung jalan yang gelap, gang kecil ini, ada kilau kemerahan. Itu adalah sepasang lentera yang diletakan di kanan kiri gapura dari bambu alakaranya dan tua. Depan rumah itu napak dalam remang. Sengaja, mungkin, luar rumah itu tak dipasangi penerang. Sekelilingnya adalah kebun, kecuali halaman depan yang di tanami sayuran. Agak jauh dari kampung. Rada tersembunyi, terlindung oleh pagar pohon-pohon, sekelilingnya. Bila siang, angin semilir menjadi sejuk, tidak seperti tempat lainnya di kampung itu. Di malam hari, suasana sunyi senyap. Namun memang tenang di sana.

Nun, itu nama penghuninya. Ia hanya merawat rumah warisan. Selain itu, ia juga merawat tanaman buah yang diwariskan orangtuanya. Bila panen, ia bagikan ke warga kampung yang mau, sisanya ia jual ke pasar. Nun juga menanam sayuran. Itu untuk kebutuhan harian. Tapi bila ada tetangga yang lewat dan punya hasnyrat menikmati sayuran Nun, ia akan membekalinya.

Nun tidak sendirian. Adiknya yang masih balita dalam asuhannya. Seorang lelaki bernama Nang. Nun berusia 15 tahun. Dua tahun yang lalu adiknya lahir. Ibunya meninggal dalam melahirkan Nang. Sebuah keluarga sederhana, Nun dan Nang kini hidup dalam keadaan yang lebih sederhana.

Semasa Bapak Nun hidup, ada yang sempat bertanya “mengapa namanya cuma Nun, pak?” Sedikit saja alasan yang disampaikan si Bapak, “kami pendatang dari jauh. Terimakasih kalian menerima kami di kampung ini.” Begitu juga dengan Nang, ada tetangga yang mampir dan menanyakan alasannya. Nan juga menjawab singkat saja, “waktu itu saya cuma ingat itu.”

Diakhir musim kemarau, seorang anak tetangga datang dari kota. Dua tahun lebih ia mengembara. Entah apa yang ia lakukan dikota. Tetapi ia menjadi kebanggaan keluarganya. Sum panggilan pemuda itu. Semampai, bersih, ramah, dan banyak yang dapat ia dongengkan. Di kampung yang dikelilingi hutan, Sum seolah seorang konsultan bagi kemajuan kampungnya. Tidak banyak yang berubah sejak empat bulan kedatangannya. Namun kini, kampung itu telah memiliki pemandian yang rapi di tengah kampung. Cunkup untuk memenuhi kebutuhan warga yang hanya kurang dari tiga puluh rumah itu. Dan pasti, Sum mendapat penghormatan dari warga.

Di bulan ke tiga, Sum mulai akrab dengan Nun. Ia sering mampir ke rumah Nun sepulang dari palawija bapaknya. Ada kesamaan di antara mereka, sama-sama suka sayuran. Memang, kedekatan itu nampak terencana. Dapat dikira, Sum menyukai gadis itu. Tidak punya alasan Sum untuk tidak terpesona. Nun, yang kesehariannya makan sayuran, berperawakan mungil dan berkulit langsat bersih. Tidak cantik. Hanya saja Nun itu punya cukup pesona untuk memikat penglihatnya.

Setelah Sum disuguhi secangkir teh hangat dan bakar jagung muda, hujan turun lebat hingga lewat petang. Ada terlintas bayang kekasih Sum yang di kota. Ia iangatkan kembali kebiasaannya di sana dalan iringan rincik hujan bersama pujaan. Tak heran jika akhirnya Nun dirayunya juga. Nun yang lembut dan gemulai, menetaskan darah perawannya dengan sedikit paksaan. Ada erangan yang segera hilang ditelan ketakberdayaan Nun. Lagipula rumahnya yang terpencil membuat Sum merasa aman dan menikmati keadaan. Mungkin sudah tergolong pakar juga, Sum bermain-main dengan santai dan dijamin tak bakal tumbuh janin. Ah, entah lah, apa yang Nun rasakan setelahnya. Nun tidak marah, cuma dengan air mata dan isak tangis ia ungkapkan. Entah, Nun begitu karena ia juga menikmatinya, entah karena ia memang telah merasa tak berharga sejak yatim-piatunya. Yang pasti, Sum pergi setelah kecupan terakhir, dan terenyum.

Kedekatan mereka tersebar. Tapi nampaknya tidak ada warga yang mengusilinya. Tepat di awal bulan ke lima, Nun pergi ke kota di ajak Sum. Adiknya, Nang, serta rumahnya ia titipkan kepada calom mertuanya. Dengan senang hati orang tua Sum menerima titipan itu.  Mereka senang bukan karena berkesampatan mencicipi panen buah yang melimpah, bukan juga dapat leluasa menggunakan rumah Nun sesuka-suka, tetapi karena mereka akan segera punyai mantu yang juga mereka senangi.

Nun merasakan kekaguman, kesenangan, kebahagian, dan seabreg perasaan yang belum bernama, yang ia simpulkan sebagai perasaan aneh dan heran. Kemegahan kota yang tak sempat ia bayangkan dulu, kini langsung saja ia nikmati. Sum tinggal bersama Nun di sebuah kontrakan. Biaya harian ia dapat dari mengajar di beberapa SMPN dan satu SMA. Rupanya, Sum seorang Guru.

Mereka bahagia di kota. Hidup laiknya suami-istri. Mula-mula Nun gelisah dengan kelakuan semacam itu. Maklum, Nun beranjak remaja di kampung. Tapi usia 24, Sum mampu tunjukan kedewasaannya dalam membimbing Nun. “jangan khawatir, Nun, ini bukan kampung. Hal demikian biasa dan dianggap wajar saja di sini. Ayolah…” Dengan mudah Nun mengerti dan mereka teruai….

Tujuh bulan mereka dalam kehangatan perasaan keluarga. Dan kemesraan bertamabah di pertengahan bulan ke delapan, sebelum Sum meninggal sebab kecelakaan. Tentu saja Nun histeris mendapat telpon dari Pak Polisi. Dan ia sempat pingsan di rumah sakit. Ketika sadar, seorang perempuan duduk di dekatnya dan tersenyum.  Itu adalah mantan kekasih Sum yang memang masih berharap untuk dilamar.  Namun, katanya, ia bertengkar hebat sebelum Sum pulang kampung. Ia juga mengaku belum pisah cinta dengan Sum. Dan ia baru tahu Sum telah kembali setelah Pak Polisi mengabarinya bahwa Sum kecelakan.  Rupanya, sebelum menelpon Nun, Cery lebih dahulu ditelpon.

Entah kesadaran apa yang merasuki mereka. Akhirnya, Nun dan Cery sepakat untuk bersama mengantarkan jenajah Sum. Diperjalanan mereka saling diam. Tapi di rumah Sum mereka saling membantu menenangkan keluarga Sum. Nampak kecewa yang getir dari penampakan wajah keluarga Sum. Namun mereka menerimakan kenyataan. “beginilah takdirmu, Nak”, guman sang ayah kepada dirinya sendiri.

Empat hari saja mereka tinggal dikampung. Menginap di rumah Nun, bareng dengan keluarga Sun. Nampak seperti benar-benar sekeluarga. Memang Nun telah dianggap anak sendiri oleh keluarga Sum. Dan begitu pula sebaliknya. Namun Ibu Sum dan Nang menangis lagi di malam terakhir. Nun izin untuk kembali ke kota esok pagi. “di sana saya bareng Mbak Ry. Ibu dan Bapa jangan khawatirkan saya. Sedikit rejeki di sana akan saya kirimkan untuk kebutuhan Nang dan keluarga di sini.” Kecupan mesra sang kakak kepada Nang, seolah untuk yang terakhir. Tak ketinggalan peluk hangat sang Bapak dan Ibu tak kurang mersranya. Kemesraan itu seolah tak kan kembali hadir.

Nun pergi dengan suasana rasa biasa. Wajahya tenang meyakinkan, bahwa ia akan baik saja. Itu lah Nun, tebiasa dengan kesederhanaan, selalu berusaha sungguh menyikapi segalanya secara sederhana. Biasa saja!

Sampai di kota tujuan jam telah menunjukan lewat tengah malam. Mereka memesan teh hangat dan roti bakar. Setengah gelas telah mereka nikmati. Dalam suasana tenang—tenang yang berusaha mereka ciptakan—mereka tertarik pada tingkah wanita di seberang jalan. Yang diamati nampaknya sedang mengamati sesuatu dari jauh. Tiba-tiba teriak “lariiiiii” dari seberang jalan membuat Cery dan Nun kaget. Cery menarik lengan Nun dan bergegas. Nun bingung, tidak memahami yang sedang terjadi. Tapi apa daya, petugas berhasil menggelandang mereka dan membawanya ke Panti Tuna Suslia. Dalam hati, dengan derai air mata, Nun ngoceh bertanya-tanya. Ya, cuma dalam hati.

Sebelum ke Panti Tuna Susial, mereka di giring ke sebuah ruangan. Kemudian satu per satu dipanggil, di bimbing ke ruangan lain lagi. Hingga tiba giliran Nun, Cery berbisik, “ingat, Nun, di kantor ini, kita semua pelacur. Kita pelasur di sini. Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

Di ruang yang lebih kecil, tiga orang lelaki duduk di sebalik meja. Tatapan mereka mengiringi datanya Nun hingga duduknya. Lama Nun di tanyai ragam rupa pertanyaan, dan satu di antaranya mencatat saja. Hingga akhirnya sampailah kepada pertanyaan “tentu boleh….” Nun sedikit membentak. Kali ini dengan isak nelangsa, “sudah ku bilang, aku bukan pelacur!!!”

Entah siapa yang mendengar teriaknya. Yang pasti, tak seorang pun membuka pintu untuk menolongnya. Nun dikeroyok, dinikmati bergiliran, hingga Nun tak sanggup menggerakan tangan pun. Lagi-lagi dalam hati, Nun menyapa bayangan Sum yang kasih dan sayang kepadanya, “aku belum pernah berpaling. Dan kini aku dipaksa. Sum….” Bayangan adik tercinta menutup kesadarannya, Nun pingsan.

Nun tersadar. Ia tau masih di atas karpet, masih di tempat ia tercabik-cabik dilalap birahi iblis. Namun hanya ada air mineral gelas tanpa sedotan. Meja telah bersih dari kertas-kertas. Diluar terdengar sedikit keributan. Pintu terbuka, dan seorang petugas menyilakannya untuk ikut. Ia berkumpul kembali dengan tangkapan semalam. Kemudian mereka digiring ke dalam mobil seperti Itik yang siap jual. Diperjalanan menuju Panti, Nun sempat merogoh saku bajunya untuk memastikan uangnya masih ada. Dan ia tenang kembali setelah yakin, “syukurlah.”

Oktober 2009 parigimulya

NUN

Diujung jalan yang gelap, gang kecil ini, ada kilau kemerahan. Itu adalah sepasang lentera yang diletakan di kanan kiri gapura dari bambu alakaranya dan tua. Depan rumah itu napak dalam remang. Sengaja, mungkin, luar rumah itu tak dipasangi penerang. Sekelilingnya adalah kebun, kecuali halaman depan yang di tanami sayuran. Agak jauh dari kampung. Rada tersembunyi, terlindung oleh pagar pohon-pohon, sekelilingnya. Bila siang, angin semilir menjadi sejuk, tidak seperti tempat lainnya di kampung itu. Di malam hari, suasana sunyi senyap. Namun memang tenang di sana.

Nun, itu nama penghuninya. Ia hanya merawat rumah warisan. Selain itu, ia juga merawat tanaman buah yang diwariskan orangtuanya. Bila panen, ia bagikan ke warga kampung yang mau, sisanya ia jual ke pasar. Nun juga menanam sayuran. Itu untuk kebutuhan harian. Tapi bila ada tetangga yang lewat dan punya hasnyrat menikmati sayuran Nun, ia akan membekalinya.

Nun tidak sendirian. Adiknya yang masih balita dalam asuhannya. Seorang lelaki bernama Nang. Nun berusia 15 tahun. Dua tahun yang lalu adiknya lahir. Ibunya meninggal dalam melahirkan Nang. Sebuah keluarga sederhana, Nun dan Nang kini hidup dalam keadaan yang lebih sederhana.

Semasa Bapak Nun hidup, ada yang sempat bertanya “mengapa namanya cuma Nun, pak?” Sedikit saja alasan yang disampaikan si Bapak, “kami pendatang dari jauh. Terimakasih kalian menerima kami di kampung ini.” Begitu juga dengan Nang, ada tetangga yang mampir dan menanyakan alasannya. Nan juga menjawab singkat saja, “waktu itu saya cuma ingat itu.”

Diakhir musim kemarau, seorang anak tetangga datang dari kota. Dua tahun lebih ia mengembara. Entah apa yang ia lakukan dikota. Tetapi ia menjadi kebanggaan keluarganya. Sum panggilan pemuda itu. Semampai, bersih, ramah, dan banyak yang dapat ia dongengkan. Di kampung yang dikelilingi hutan, Sum seolah seorang konsultan bagi kemajuan kampungnya. Tidak banyak yang berubah sejak empat bulan kedatangannya. Namun kini, kampung itu telah memiliki pemandian yang rapi di tengah kampung. Cunkup untuk memenuhi kebutuhan warga yang hanya kurang dari tiga puluh rumah itu. Dan pasti, Sum mendapat penghormatan dari warga.

Di bulan ke tiga, Sum mulai akrab dengan Nun. Ia sering mampir ke rumah Nun sepulang dari palawija bapaknya. Ada kesamaan di antara mereka, sama-sama suka sayuran. Memang, kedekatan itu nampak terencana. Dapat dikira, Sum menyukai gadis itu. Tidak punya alasan Sum untuk tidak terpesona. Nun, yang kesehariannya makan sayuran, berperawakan mungil dan berkulit langsat bersih. Tidak cantik. Hanya saja Nun itu punya cukup pesona untuk memikat penglihatnya.

Setelah Sum disuguhi secangkir teh hangat dan bakar jagung muda, hujan turun lebat hingga lewat petang. Ada terlintas bayang kekasih Sum yang di kota. Ia iangatkan kembali kebiasaannya di sana dalan iringan rincik hujan bersama pujaan. Tak heran jika akhirnya Nun dirayunya juga. Nun yang lembut dan gemulai, menetaskan darah perawannya dengan sedikit paksaan. Ada erangan yang segera hilang ditelan ketakberdayaan Nun. Lagipula rumahnya yang terpencil membuat Sum merasa aman dan menikmati keadaan. Mungkin sudah tergolong pakar juga, Sum bermain-main dengan santai dan dijamin tak bakal tumbuh janin. Ah, entah lah, apa yang Nun rasakan setelahnya. Nun tidak marah, cuma dengan air mata dan isak tangis ia ungkapkan. Entah, Nun begitu karena ia juga menikmatinya, entah karena ia memang telah merasa tak berharga sejak yatim-piatunya. Yang pasti, Sum pergi setelah kecupan terakhir, dan terenyum.

Kedekatan mereka tersebar. Tapi nampaknya tidak ada warga yang mengusilinya. Tepat di awal bulan ke lima, Nun pergi ke kota di ajak Sum. Adiknya, Nang, serta rumahnya ia titipkan kepada calom mertuanya. Dengan senang hati orang tua Sum menerima titipan itu.  Mereka senang bukan karena berkesampatan mencicipi panen buah yang melimpah, bukan juga dapat leluasa menggunakan rumah Nun sesuka-suka, tetapi karena mereka akan segera punyai mantu yang juga mereka senangi.

Nun merasakan kekaguman, kesenangan, kebahagian, dan seabreg perasaan yang belum bernama, yang ia simpulkan sebagai perasaan aneh dan heran. Kemegahan kota yang tak sempat ia bayangkan dulu, kini langsung saja ia nikmati. Sum tinggal bersama Nun di sebuah kontrakan. Biaya harian ia dapat dari mengajar di beberapa SMPN dan satu SMA. Rupanya, Sum seorang Guru.

Mereka bahagia di kota. Hidup laiknya suami-istri. Mula-mula Nun gelisah dengan kelakuan semacam itu. Maklum, Nun beranjak remaja di kampung. Tapi usia 24, Sum mampu tunjukan kedewasaannya dalam membimbing Nun. “jangan khawatir, Nun, ini bukan kampung. Hal demikian biasa dan dianggap wajar saja di sini. Ayolah…” Dengan mudah Nun mengerti dan mereka teruai….

Tujuh bulan mereka dalam kehangatan perasaan keluarga. Dan kemesraan bertamabah di pertengahan bulan ke delapan, sebelum Sum meninggal sebab kecelakaan. Tentu saja Nun histeris mendapat telpon dari Pak Polisi. Dan ia sempat pingsan di rumah sakit. Ketika sadar, seorang perempuan duduk di dekatnya dan tersenyum.  Itu adalah mantan kekasih Sum yang memang masih berharap untuk dilamar.  Namun, katanya, ia bertengkar hebat sebelum Sum pulang kampung. Ia juga mengaku belum pisah cinta dengan Sum. Dan ia baru tahu Sum telah kembali setelah Pak Polisi mengabarinya bahwa Sum kecelakan.  Rupanya, sebelum menelpon Nun, Cery lebih dahulu ditelpon.

Entah kesadaran apa yang merasuki mereka. Akhirnya, Nun dan Cery sepakat untuk bersama mengantarkan jenajah Sum. Diperjalanan mereka saling diam. Tapi di rumah Sum mereka saling membantu menenangkan keluarga Sum. Nampak kecewa yang getir dari penampakan wajah keluarga Sum. Namun mereka menerimakan kenyataan. “beginilah takdirmu, Nak”, guman sang ayah kepada dirinya sendiri.

Empat hari saja mereka tinggal dikampung. Menginap di rumah Nun, bareng dengan keluarga Sun. Nampak seperti benar-benar sekeluarga. Memang Nun telah dianggap anak sendiri oleh keluarga Sum. Dan begitu pula sebaliknya. Namun Ibu Sum dan Nang menangis lagi di malam terakhir. Nun izin untuk kembali ke kota esok pagi. “di sana saya bareng Mbak Ry. Ibu dan Bapa jangan khawatirkan saya. Sedikit rejeki di sana akan saya kirimkan untuk kebutuhan Nang dan keluarga di sini.” Kecupan mesra sang kakak kepada Nang, seolah untuk yang terakhir. Tak ketinggalan peluk hangat sang Bapak dan Ibu tak kurang mersranya. Kemesraan itu seolah tak kan kembali hadir.

Nun pergi dengan suasana rasa biasa. Wajahya tenang meyakinkan, bahwa ia akan baik saja. Itu lah Nun, tebiasa dengan kesederhanaan, selalu berusaha sungguh menyikapi segalanya secara sederhana. Biasa saja!

Sampai di kota tujuan jam telah menunjukan lewat tengah malam. Mereka memesan teh hangat dan roti bakar. Setengah gelas telah mereka nikmati. Dalam suasana tenang—tenang yang berusaha mereka ciptakan—mereka tertarik pada tingkah wanita di seberang jalan. Yang diamati nampaknya sedang mengamati sesuatu dari jauh. Tiba-tiba teriak “lariiiiii” dari seberang jalan membuat Cery dan Nun kaget. Cery menarik lengan Nun dan bergegas. Nun bingung, tidak memahami yang sedang terjadi. Tapi apa daya, petugas berhasil menggelandang mereka dan membawanya ke Panti Tuna Suslia. Dalam hati, dengan derai air mata, Nun ngoceh bertanya-tanya. Ya, cuma dalam hati.

Sebelum ke Panti Tuna Susial, mereka di giring ke sebuah ruangan. Kemudian satu per satu dipanggil, di bimbing ke ruangan lain lagi. Hingga tiba giliran Nun, Cery berbisik, “ingat, Nun, di kantor ini, kita semua pelacur. Kita pelasur di sini. Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

Di ruang yang lebih kecil, tiga orang lelaki duduk di sebalik meja. Tatapan mereka mengiringi datanya Nun hingga duduknya. Lama Nun di tanyai ragam rupa pertanyaan, dan satu di antaranya mencatat saja. Hingga akhirnya sampailah kepada pertanyaan “tentu boleh….” Nun sedikit membentak. Kali ini dengan isak nelangsa, “sudah ku bilang, aku bukan pelacur!!!”

Entah siapa yang mendengar teriaknya. Yang pasti, tak seorang pun membuka pintu untuk menolongnya. Nun dikeroyok, dinikmati bergiliran, hingga Nun tak sanggup menggerakan tangan pun. Lagi-lagi dalam hati, Nun menyapa bayangan Sum yang kasih dan sayang kepadanya, “aku belum pernah berpaling. Dan kini aku dipaksa. Sum….” Bayangan adik tercinta menutup kesadarannya, Nun pingsan.

Nun tersadar. Ia tau masih di atas karpet, masih di tempat ia tercabik-cabik dilalap birahi iblis. Namun hanya ada air mineral gelas tanpa sedotan. Meja telah bersih dari kertas-kertas. Diluar terdengar sedikit keributan. Pintu terbuka, dan seorang petugas menyilakannya untuk ikut. Ia berkumpul kembali dengan tangkapan semalam. Kemudian mereka digiring ke dalam mobil seperti Itik yang siap jual. Diperjalanan menuju Panti, Nun sempat merogoh saku bajunya untuk memastikan uangnya masih ada. Dan ia tenang kembali setelah yakin, “syukurlah.”

Oktober 2009 parigimulya

Iklan

8 Tanggapan to “Nun”

  1. ulan said

    GiNun..

  2. gin said

    okeh okeh okeh 😉

  3. selesai baca trs ngos-ngosan ambil nafas
    ini cerita fiksi kah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: