Sok

2009/12/19

kota menawarkan kemegahan, kemewahan, kesenangan.
nampaknya itu hanya tawaran.
orang kampung berbondong beranjak ke kota.
sebagian banyaknya jadi pengemis, pengamen, pelacur, dan seabreg sebutan sampah.
rumah bagus, jalan bagus, kantor-kantor bagus, sekolahan bagus, ramainya pasar emperan, juga mall-mall, bukan untuk mereka.
tong sampahnya pun bukan untuk mereka.
kampung.
hanya jalan tanah, pohon-pohon, sungai, seabreg tumbuhan dan binatang.
kemewahan tidak ada di sana.
juga kemegahan.
pun kesenangan.
tapi kebersamaan, ada.
bersama-sama saling memberi dan menerima.
bersama berbagi bahagia.
kedukaan pun bersama.
kampung itu ketinggalan.
segalanya ketinggalan.
makanya, pergilah ke kota.
semua ada.
tempat bersih sampai paling menjijikan.
orang baik hingga pembunuh.
yang pengertian, yang sewewnang-wenang tumplek di sana.
ya, di kota.
ya, yang makannya selalu tersisa hingga yang menyisakan lapar, ada di kota.
jalan-jalan disiangnya kota.
apa artinya sejuk.
panasnya, pengapnya, ricuhnya,…uwh…semberawutnya, lihat sajalah.
tapi kalau malamnya, kota tampil memukau.
lampu penghias-jalannya saja menyilaukan para ber-uang.
terangnya meresahkan.
nyaris mencekit mati orang sampahan.
ayo bilang, siapa tak bangga jadi penghuni kota?
di bawah langit-langit emper rumahan mewah, juga barisan toko bagus, bisa jadi kamar tidur.
saking bersihnya itu kota.
lihatlah! tertegun, terkejut, dan seabrek jengkel dan resah khawatir bakalnya.
rancangan makhluk moderen memang mencengangkan.
sok bilang, siapa tak bangga jadi orang kota?
dibalik kesibukan siangnya, dibalik ramah malamnya, kota adalah kemunafikan.
dibalik segalanya, kota adalah kebodohan.
coba saja balikan tirainya, kemudian balikan lagi, balikan lagi, lagi, hanya kesombongan saja adanya.
sombong untuk menunjukan dan menutupi.
kan “rahasia umum” asalnya latahan makhluk kota.
hanya menutup-nutupi saja.
yang rombeng, yang kotor, mudah ditutupi dengan itu.
kan, siapa yang tak bangga jadi orang kota?
yang kampungan hanya berjalan bergandengan.
hanya menapak seiringan.
hanya menghormati.
segalanya dihormati.
katanya, sebab segalanya itu karya YangEsa.
yang kampungan jauh tertinggal.
hanya sebab menunggu baliknya yang lari pontang-panting.
menunggu balik yang tergesa-gesa mengejar tujuan tanpa belajar arah.
menunggu teriakan yang tersesat.
menunggu waktu untuk menolong mereka.
hahahaha,,,
hmhh…dasar kampungan!

13 Juli 2008 Bandung

Iklan

2 Tanggapan to “Sok”

  1. linatussophy said

    lama nggak update 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: