di Terik Hari

2009/07/20

Sekumpulan Ojek nyengir dengan mata yang dipicingkan. Cahaya membuat mereka tampak aneh. Lari mereka memburu angkot yang mendekat, ”okjek Teh, Pa, Bu, A…”. Tak satu pun yang turun berminat. Nampak keluhannya.

Sepajang perjalanan saya mengobrol dengan Kang Supir. ”muatan semakin sepi. Kredit motor sih makin gampang”. Kalo dia tau caranya, mungkin dia akan datang ke pihak yang berwenang untuk mencurahkan keluhannya. Itu pun jika ada keberanian dan tidak berkecil hati.

Saya menanggapinya dengan mengangguk-angguk dan ”heem”. Setelah menyeru-nyerukan menawari siapa saja yang mungkin perlukan tumpangan, ia menambahi ceritanya, ”kalo anak sekolahan ga bawa motor sendiri, mungkin rada lumayan, ga sepi begini. Belum lagi yang di jemput, yang nebeng ke temannya, yang sama pacarnya”.

Pikiranku melayang memanjakan lamunan. Tak tau apa yang mesti ku katakan untuk menanggapinya. Lama kami saling diam. Suasana sepi. Hingga saya turun, tak ada lagi penumpang kecuali saya.

(untuk Kang Supir Angkot baru aku kenal, dan belum tau namanya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: